Kisah Angkatan: 1967

Share Post:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Jurusan Metalurgi FTUI dimulai tahun 1965. Kemudian muncul gejolak politik dan masa perkuliahan terganggu. Tahun 1976 diadakan kembali penerimaan mahasiswa baru.
Saat itu FTUI berlokasi di Jl Salemba, dengan ruangan kuliah yang sebagian masih berdinding papan. Beberapa tahun kemudian dibangun kelas2 dengan bangunan beton.
Sistem perkuliahan ditahun itu masih memilih system tingkat. Ditingkat pertama, mata kuliah umum Metalurgi digabung dengan Jurusan lain seperti mata kuliah Fisika, Matematik, Kelistrikan, Mekanika (Ilmu Gaya), Teknik Mesin, Menggambar Mesin, Motor Bakar, Kerja Praktek, Pengelasan, Wajib Latih Mahasiswa.
Sistem Ujiannya adalah system gugur. Kalau satu mata kuliah tidak lulus, maka seluruh mata kuliah selama satu tahun dianggap hangus semua. Dan Tahun kedua mengulang lagi ditingkat yang sama untuk semua mata kuliah.
Hal yang menyakitkan adalah jika yang ditahun pertama tidak lulus matematika, mahasiswa akan tinggal kelas dan mengulang semua matakuliah tingkat satu. Kemudian pada tahun kedua ditingkat yang sama, mahasiswa berhasil lulus matematika dengan nilai baik, tapi tidak lulus utk matakuliah yang dahulu pernah lulus, maka mahasiswa akan di drop out. Ini disebut sistim gugur.
Di Tingkat ke 2, mulai ada mata kuliah penjurusan, walaupun masih ada satu dua matakuliah gabungan, seperti matakuliah elektronika Lanjutan dan Matematika.
Ketua Jurusan saat itu, Bapak Dr Ing Poernomosidi adalah pejabat pemerintahan, dengan jabatan terakhir adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hal ini yang menyebabkan beliau sebagai dosen tetap namun tidak dapat sepenuhnya menagani Jurusan dan juga belajar mengajar. Ada dosen lain yang juga sebagai dosen tetap dan juga sebagai pejabat di Angkatan Udara yaitu Rosfian Dahar. Beliau saat itu sebagai sekretaris jurusan, dan mengajar Ilmu Logam 1 dan 2. Sedangkan matakuliah lain dipegang oleh dosen tidak tetap, yang mengajar disela2 kesibukan mereka, seperti matakuliah Non Ferrous Alloys. Sehingga saat itu mahasiswa banyak menganggur menanti kedatangan dosen pengajar tanpa berita yang jelas, karena tidak ada sarana komunikasi, sehingga banyak mahasiswa merasa kecewa. Keadaan ini menjadikan kegelisahan bagi mahasiswa, ketidak pastian, walaupun Dr Poernomosidhi memberikan komitmennya bahwa akan melanjutkan proses perkuliahan metalurgi ini sampai tuntas.
Dengan tidak adanya dosen saat itu, Pak Poernomosidhi menugaskan mahasiswa yang ada (sebagian dikirim ke ITB untuk melanjutkan perkuliahan), untuk keliling ke pabrik-pabrik pengecoran yang ada di seluruh pulau Jawa selama satu Bulan. Kadang disela kesibukannya , pak Poer sesekali menemani mahasiswa dalam kunjungna pabrik2 pengecoran itu. Dan dengan demikian saat itu, ketujuh mahasiswa melanjutkan proses penelitian yang langsung dipimpin beliau sendiri.
Ada dua panrik besar untuk penelitian mhs kala itu, PINDAD di Bandung dan BARATA di Surabaya. Selama satu tahun, mahasiswa melakukan penelitian tentang proses pengecoran disana.
Ditahun 1974, Jurusan Metalurgi kedatangan para lulusan dari Jerman ke Indonesia, yang diminta pak Poer untuk membantu mengisi perkuliahan di FTUI ini, mereka adalah Dr Ing Rachmantio (yang akhirnya ditunjuk sebagai wakil ketua Jurusan), Dr Ing Muljono, Dipl Ing Jan Winata, Dipl Ing Ronald Tanga. Dengan hadirnya mereka, perkuliahan berjalan lancer, sampai ketujuh mahasiswa ini lulus di tahun 1975.
Setelah lulus dari Jurusan Metalurgi ini, ketujuh alumni ini bekerja pada industry logam, dan beberapa dosen kembali ke kampus menjadi dosen, seperti Ir Bustanul Arifin (berkarir di Pabrik Baja Krakatau Steel & Foundry Baja Indonesia Utama), dan Ir Sutopo )berkarir di Aneka Mukti Metal) dan Ir Kusno Darsono (berkarir menjadi sales Dapur Heat Treatment)
Tahun-tahun berikutnya, mengalami proses dinamika dan romantika yang juga unik. Sebagai pendiri Jurusan Metalurgi, Bp Dr Ir Poernomosidi dan penerusnya yang melanjutkan sampai menghasilkan sarjana Metalurgi angkatan pertama ini adalah Pak Rachmantio, beliau konsisten melanjutkan pengembangan Jurusan ini sampai sekarang. Hal ini dirintis oleh pak Rachmantio dengan usaha yang tidak mudah, dibantu oleh dosen Mesin (Bapak sri Bintang Pamungkas, yang saat itu menjabat sebagaia Pembantu Dekan II) maka jurusan Metalurgi akhirnya dipinjamkan sebuah ruangan yang digunakan untuk Laboratorium Kimia. [diceritakan oleh Hendrian Mt 67]

Informasi Lainnya

Kisah Angkatan 1975

Saya bercerita tentang pengalamanku tentang Jurusan Metallurgy yang kutekunin selama saya kuliah di FTUI.Sebenarnya aku tidak familiar dengan kata Metallurgy sejak

Selengkapnya >

Kisah Angkatan 1987

Angkatan Mt87 adalah angkatan pertama yang mulai di kampus Depok sejak tahun pertama. Kampus FTUI saat itu masih gersang, penuh jejak

Selengkapnya >

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *