Kisah Angkatan 1986

Share Post:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Setahun kuliah di Salemba, dengan segala keramaian dan kegiatannya, terdengar juga bahwa kuliah akan pindah ke Depok. Seumur-umur belum tahu juga Depok ada di sebelah mana. Yang terdengar dulu bahwa Depok itu ada Perumnas buat PNS yang pake KPR BTN. Kasak-kusuksepertiapatempatkuliahbaru pun mulaiterasa, teman-teman juga sudah mulai merasa perlu untukmenengok biar tahu medan.
Saya dengan teman seangkatan, Yuliarso, juga berencana survey. Pake motor, biar gampang cari lokasi dan berhenti seperlunya. Dari kawasan Bukit Duri, Manggarai kami mulai bergerak. Alamak! Rasanya nggak sampai-sampai kampus UI ini. Entah sudah berapa kali kami potong jalurkeretaapi, juga berapa kali kami nyalip bis Miniarta dan Sukmajaya. Kira-kira hamper 2 jam, akhirnya sampai juga kepintu gerbang yang belum ada petunjuknya. Karena ada dua cabangjalan, maka dipilih jalan yang kanan. Masih jalan tanah atau jalan proyek, kami susuri jalan itu. Lagi-lagi, alamak masih belum sampai juga ke gedung FT. Belakangan baru kami tahu kalau jalan yang dipilih adalah jalan yang memutar, sekarang adalah jalan yang ke arah Asrama Mahasiswa, terus kearah belakang menuju pintu masuk Kutek (KukusanTeknik). Pantesanjauh..
Saatnya betul-betul pindah ke Depok di semester awal. Dua minggu sebelumnya, saya putuskan untuk mengontrak satu rumah petak di Kukusan bersama 3 orang teman seangkatan. Lucunya ketika ditempati, ternyata tetangga rumah petak juga teman mahasiswa dari jurusan lain. Salah satunya Johan Budi, GP‟85 yang sekarang jadi salah satu pimpinan KPK. Sebagian teman juga tinggal indekos di RPT (Rumah PemondokanTumbuh) yang digagasYayasan Supersemar.
Saat semester awal semester baru berjalan bukan juga hal yang lancer-lancar saja. Maklum, semua perangkat yang mengurusi perlengkapan kuliah juga baru pindah. Sebagiankelas-kelas yang letaknya di bawah, sepertikelas-kelas di Ruang KuliahBersama (RKB) lantai 1, ketika hujan turun kadang dipenuhi oleh tanah yang turun karena dinding turap belum dibangun, dan kami terpaksa cari ruang lain. Tahun awal pindah itu, kebetulan saya sudah mulai aktif di Senat Mahasiswa, kami minta anak baru (Angkatan 87) untuk menanam pohon di seluruh pekarangan FTUI. Biar tidak gersang, dan menjaga tanah tidak mengalir kekelas-kelas lagi.
Bukan urusan kelas dan kuliah, kadang urusan pribadi jadi masalah juga waktu hujan. Pernah suatu hari terpaksa harus balik kost buat ganti celana yang penuh tanah, gara-gara kepleset di jalan waktu mau berangkat kuliah. Itulah Kukusan jaman tahun 87-88. Beda dengan sekarang yang sebagian besar sudah dicor semen jalannya.
Kedekatan dengan penduduk sekamir kampus juga masih kuat. Jaman itu kami bisa nebeng nonton bola bareng European Cup 88 di salah satu rumah penduduk yang punya TV. Dan sudah pasti segelas kopi dari tuan rumah ikut menemani. Selainitu, tiap pagi kami juga sering dikirimi satu termos susu segar dari tetangga yang punya peternakan sapi perah. Hmmm. Sekarang? Kalau saya telusuri lagi, memang jauh berbeda. Pendatang sudah lebih banyak dari penduduk aslinya, RPT ternyata tidak menjadi sumber penghasilan penduduk yang tanahnya ketempatan, indekost makin menjamur. Jaman sudah berubah. [Sri Bramantoro Abdinagoro, Metal‟86]

Informasi Lainnya

Kisah Angkatan1978

Mahasiswa baru di angkatan 78 sekitar 24 orang, kami mengikuti perploncoan seperti angkatan lalu, saat itu bergabung dengan angkatan 77 gelombang

Selengkapnya >

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *