Kisah Angkatan 1987

Share Post:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Angkatan Mt87 adalah angkatan pertama yang mulai di kampus Depok sejak tahun pertama. Kampus FTUI saat itu masih gersang, penuh jejak jejak lumpur tanah liat jika musim hujan tiba dan gersang jika musim panas. Menunggu bis kuning menjadi cobaan tersendiri karena belum ada pepohonan yang tinggi untuk berteduh dari terik matahari. Pohon pohon di sekitar halte .paling tinggi rata rata 1 m. Suasana yang sangat berbeda dengan kampus FTUI dan UI di Depok sekarang yang sangat rimbun dan hijau. Kondisi Tahun 1987 masih gersang dan kering disekitar Kampus. Merupakan tantangan tersendiri untuk yang mahasiswa yang kost di sekitar Desa Beji atau Kukusan jika musim hujan tiba. Tas Kresek diubah menjadi sepatu boot sehingga kaki dan sepatu yang digunakan tidak kotor oleh lumpur tanah liat yang membentang dari sekitar rumah Kost sampai pintu gerbang belakang yang terbuka, di depan Dekanat FTUI. Sepanjang jalan dari desa Kukusan samapi gerbang kecil pejalan kaki di depan Dekanat FTUI belum di aspal. Seru, seperti berada di desa yang jauh dari Ibukota. Jika dibandingkan dengan Kampus FTUI di Salemba, rasanya seperti kita berada di pedalaman yang belum terjamah kemajuan ibukota.
Bis kuning baru ada dua buah dan satu bis abu abu yang sudah tua tetapi sangat membantu di tengah panas dan gersanganya kampus saat itu. Berbagai inisiatif muncul, dalam menyikapi jumlah bis Kampus yang sangat minim dan jam kulioah yang tidak bisa diajak kompromi. Selain rebutan mengejar bis kuning, para mahasiswa teknik khususnya yang lokasi kampusnya paling dibelakang memutar cara bagaimana bisa datang kuruang kuliah on time. Akhirnya, banyak dianatra rekan rekan mahasiswa, mencegat rekan rekan yang membawa kendaraan pribadi atau di anatar di pintu gerbang. Saling tolong menolong walaupun bukan dari Jurusan yang sama. Kami akhirnya saling dan banyak mengenal rekan rekan dari Jurusan lain pun para senior, karena metode cegat tebeng untuk masuk ke dalam kampus. Kenal – tidak kenal, kita stop untuk nebeng masuk ke kampus FTUI yang lokasinya paling belakang.
Gedung kuliah masih baru dan Ruang kuliahpun masih bau cat, serta serpihan tanah liat yang menempel karena belum adanya pepohonan yang rindang seperti saat ini. WC yang masih sering berhenti keluar airnya, lampu ruang kuliah yang masih suka byar pet, ( kalau pas musih hujan dan mendung , mati lampu , membuat kita mengantuk dan ingin melanjutkan tidur daripada mendengarkan pelajaran dari Pak/Bu Dosen. AC belum ada disemua ruangan, apalagi diruang kuliah bersama, udara luar dan segar masuk disetiap ruang kuliah menemani hari hari belajar kami di kampus. Lapangan Pasir didalam gedung Jurusan Metalurgi menjadi kenangan terindah bagi kami, karena menjadi tempat mabim kami yang penuh cerita dan kenangan serta hari hari kami selanjutnya untuk praktikum pengecoran.
MABIM – Masa Bimbingan angkatan yang seru, dimana saat ini kami mengambil hikmahnya. Kebersamaan yang tercipta saat Mabim sampai saat ini membentuk rasa kekeluargaan yang kuat diantara kami. Cerita cerita sejak masa Mabim, hari hari kuliah sampai satu demi satu menuntaskan masa pembelajaran di Jurusan Metalurgi kemudian bekerja dan berkiprah diberbagai bidang dan industri, berlanjut ke masa pernikahan diantara kami yang kemudian dilanjutkan cerita mengenai putra putri kami menjadi kami satu kesatuan keluarga Metalurgi angkatan 87 yang erat. Kesibukan masing masing tidak memupuskan rasa persahabatan dan persaudaraan yang ada. Persahabatan yang erat, rasa setia kawan yang kukuh dengan sedikit riak riak ditengahnya tetap menjadikan kami bagaikan satu keluarga besar yang saling menyayangi.
Kalimat yang saat Mabim dulu kerap dilontarkan oleh senior ..”Jangan Makan Tulang Teman ..” tetap terngiang hingga detik ini. Hal ini manjadi salah satu yang membawa persaudaran kami tetap kuat hingga saat ini. Mabim adalah masa bimbingan dari Senior Senior dengan penuh cinta untuk
kami adik adiknya, sehingga kami bisa menjadi mahasiswa yang kuat, tegar, kompak dan bahu membahu satu sama lain menggapai cita cita. Selain suasana yang sedikit tegang saat mabim, sebetulnya banyak sekali hal lucu dibelakang itu. Dimana di sore hari saat Mabim telah usai, kami akan berkumpul dan terbawa cekikikan samapi terbahak bahak membicarakan bagaimana sikap sikap Kakak kakak senior hari itu yang sok galak, juga hal hal lucu yang terjadi. Tak lekang dari ingatan, seorang kakak senior yang saat itu galaknya minta ampun, tetapi ternyata setelah Mabim dia sangat baik dan ternyata gak berani untuk berkomunikasi dengan dekat dengan adik adik mahasiswinya …hehehehe. Mabim menjadi suatu kegiatan di awal kuliah yang tidak terlupakan dan membawa kenangan yang indah. Dari Mabim itu kami angkatan 87 di kemudian hari menjadi lebih dekat dan kompak dengan kakak kakak senior dari angkatan 86,85,84,83,82 dan terjadi pula kisah kasih lintas angkatan. ehm..ehm..
Tanggal 7 September 1987, adalah hari pertama kuliah sejak kami menjadi seoranga Mahasiswa. Kuliah diadakan di Gedung FTUI ruang K107 dengan mata kuliah Pengantar Ilmu Metalurgi, cikal bakal semua mata pelajaran yang akan menemani hari hari kami selanjutnya. Dosen mata kuliah PIM saat itu adalah Pak STP, beliau sangat antusias mengajar kami, boleh dibilang sangat semangat. Saking semangatnya menerangkan sambil mondar mandir di atas undakan tangga sambil menulis di papan tulis, tiba tiba ..Gedubrak …beliau tergelincir dan jatuh mengelimpang….Ups. Dari belakang tahu tahu sempat hanya terlihat kakinya saja ada diatas. Bisa dibayangkan situasi saat itu. Kami ingin menolong beliau, tetapi beliau segera bangun, ingin ketawa ( namanya mahasiswa kan masih banyak jahilnya .. ) Nggak berani.. Mau Nggak ketawa ….susah juga ..Yang terjadi, satu kelas menahan ketawa tetapi dengan muka nyengir tertahan karena juga prihatin. Kejadiannya tersebut masih di pagi hari, belum berapa lama dari kuliah dimulai. Kenangan ini tidak terlupakan dan menjadi memory yang akan menjadi bagian dari perjalanan kami, Angkatan 87.
Kenangan lain adalah Kuliah Bahjan Bakar dengan Dosen Pak YU. Dosen yang selalu memberikan teh botoh saat kuliah tetapi tidak boleh ada yang terlambat saat kuliah. Jika terlambat tidak boleh masuk, dan jika sudah 3 kali absen maka siap siap anda mendapat D. Boleh dibilang beliau adalah dosen yang kita anggap angker, karena harus masuk tepat waktu dan siap siap mengulang jika kita telat 3x, dan yang utama mata kuliah ini diadakan sekitar jam 4-6 sore di hari Sabtu. Ya.. di hari Sabtu sore, dimana para mahasiswa lain sudah pulang sejak siang hari dan bersiap siap untuk acara lain, tetapi kami harus duduk manis mendengarkan mata kuliah Bahan Bakar. Menunggu mata kuliah Bahan Bakar yang diadakan di sore hari tersebut cukup lama. Dari mata kuliah terakhir pukul 1 atau 12, kami biasanya duduk kongkow di gazebo Metalurgi, atau makan diluar di sekitar Pasar Mingu atau pulang ke kost, nonton di sekitar Statiun Depok sampai lari sore di sekitar kampus. Absensi sangat ketat, selalu ada giliran piket yang menghapus papan tulis. Untuk pulang pun biasanya digilir, minggu ini dimulai dari absen A, minggu depan akan dimulai dari Absen Z.
Kelas selalu tegang, karena mahasiswa tidak boleh bicara, senyum ataupun tertawa selama kuliah. Teguran khas beliau (karena tidak hapal satu demi satu nama mahasiswanya, kecuali satu orang teman kami yang sangat beliau hapal) “ Ayo saudara yang duduk di baris ke 4 itu coba duduk tegap dan perhatikan ke depan”. Mata kuliah yang membosankan dan bikin ngantuk karena jam istirahat sore. ,tetapi kami harus tetap duduk tegak dan mata terbuka. Masa yang sangat berat dan penuh penderitaan, sehingga semua mahasiswa hampir tidak ingin mengulang. Dapat nilai C cukup sudah, yang penting segera terbebas dari mata pelajaran Pak Dosen. Walaupun dapat teh botol, lebih baik cukup sekali saja mata kuliah beliau.
Prinsip beliau tidak boleh mahasiswa terlambat, sehingga jika terlambat tidak boleh masuk. Tetapi ada kejadian dimana sang Dosen tidak berkutik, saat menyangkut keterlambatan seorang teman kami, satu satunya mahasiswa yang beliau inget namanya. Hari itu teman kami terlambat masuk..
Semua dikelas menunggu, apakah yang akan terjadi ? Beranikan sang Dosen mengusir teman kami tersebut ?? Setelah bicara dengan teman kami, tanpa nada keras seperti biasanya, beliau kemudian berkata “ Saudari SP dkk terlambat karena rapar persiapan P4 yang merupakan program pemerintah yang harus kita dukung sepenuhnya, maka saya ijinkan mereka tetap mengikuti kuliah….” Weeeeee…. ternyata sang Dosen tidak berani mengusir teman kami, sang putri DIRUT XXXXXX, atasan tertingi beliau di tempat sang dosen sehari hari bekerja. Hahahahahaha.
Masa masa kuliah yang sangat indah. Hari hari dilalui dengan tawa canda, walaupun saat saat akhir bulan adalah saat saat yang mencengkam bagi teman teman yang berasal dari daerah karena uang saku kiriman sudah menipis sementara kiriman baru belum saatnya datang. Banyak cara disiasati, seperti makan setengah porsi, atau beli bungkus di warung tegal yang boleh mengambil nasi dan sayur yang banyak, sehingga bisa untuk dua kali makan, siang dan malam. Suka duka bagi mahasiswa yang kost yang berasal dari daerah.
Hari hari ujian yang selalu diisi dengan kehebohan dan kesibukan yang sama dari semester ke semester, yaitu memfoto copy catatan paling lengkap yang dimiliki salah seorang rekan kami, yaitu Cening (Bondan) , yang kelak menjadi satu satunya rekan kami yang termuda menjadi Professor dibidang Metalurgi.
Kisah kisah selama kuliah tidak kalah serunya, Tugas Ekskursi dimana kami pergi ke Surabaya, PT Pal, PT Boma Bisma, dll dengan mengunakan kereta api bersama sama dari dan kembali ke Jakarta. Usai .ekskursi, sebagian besar dari kami, melanjutkan piknik bersama, sebagian pergi ke Lombok, sebagian ke Jogya dan Magelang, sebagian ke Jember dan sebagian kembali ke Jakarta.
Kerja praktek (KP) di berbagai perusahaan, baik di KS, IPTN, dll, dimana ternyata program KP juga menjadi sarana bertemu kekasih hati , baik di antara teman seangkatan, dengan mahasiswa Universitas lain maupun dengan Kakak Pembimbing. Beberapa dari teman kami ternyata menemukan jodohnya bermula saat KP ini. Kisah cinta yang indah, karena beberapa sahabat Metal 87 menemukan belahan jiwa pendamping hidupnya saat KP.
Kegiatan kegiatan lain yang seru dan tak kalah kenangan yang tak terlupakan. Menjadi asisten berbagai Laboratorium di Jurusan Metalurgi, asisten Perpustakaan Metalurgi dan tak kalah seru menjadi supporter Persija Jakarta jika tim asuhan Pak Dekan saat itu, Pak Todung BLR bertanding di Gelora Bung Karno. Para mahasiswi menjadi penjaga karcis dan mahasiswa menjadi penjaga pintu masuk, Tugas yang selalu dinanti nanti karena setiap kali bertugas kami mendapat honor Rp. 10,000 yang sangat berarti nilainya saat itu. (Bisa dipakai untuk satu kali makan siang atua untuk nonton di XXI). Ini semua berkat alm dosen kami Pak TBLR yang menjadi ketua dan dedengkot Persija saat itu. Selamat beristirahat dengan damai Pak Todung.
Kami sangat berterima kasih atas dosen dosen yang telah membimbing kami, saeperti Alm Pak Bustanul A yang menjadi dosen kesayangan kami karena merupakan Dosen Pembimbing Mt 87. Pak Bus telah menjadi ayah Mt 87 selama kami kuliah. Beliau selalu dekat dengan para mahasiswa dan mahasiswinya. Pendekatan beliau saat itu membuat kami merasa tidak ada jarak yang jauh antara mahasiswa dan Dosen, teetapi menjadikan merasa ada seoarang ayah di hari hari kami kuliah di Metalurgi. Selamat berisitirahat, Pak Bus semoga Bapak Khusnul Khotimah.
Tak terlupakan rasa kasih dan takzim kami untuk semua Dosen Dosen yang telah membimbing kami, Metalurgi 87 seperti Ibu Anne, Ibu Sriati, Ibu Yunita, Ibu Desi, Pak Winarto, Pak Andi, Pak Bambang S, Pak Edy Sirajd, Ibu Mirna, Ibu Rini, ibu Sari, Pak Johny, dll. Dosen Dosen hebat yang menjadikan masa tumbuh terbaik dari masa kehidupan kami.
Dengan beban 160-an SKS yang harus diselesaikan, Kerja Praktek, Tugas Kecil serta Tugas Akhir yang harus dituntaskan, angkatan Metal 87 lulus tercepat dalam waktu 4 tahun. Terbanyak angkatan Mt87 lulus dalam periode 5-6 tahun.
Tahun tahun setelah lulus persahabatan terus berlanjut, kami selalu rutin melakukan buka puasa bersama setiapa tahun hingga saat ini. Perjalanan persahabatan kami sudah menginjak 27 tahun . Reuni besar kami adakan saat 20th pada tahun 2007 dikampus FTUI. 50 orang teman dapat hadir beserta keluarganya.
Saat ini beberapa teman kami telah lebih dahulu meninggalkan kami, doa terindah untuk sahabat sahabat tercinta, almh Rita Nunik yang pergi disaat akhir menyelesaikan skripsinya, alm Turkam yang pergi akibat kecelakaan saat mendaki gunung, dan trakhir alm Adi ”Dadang” Wibowo yang tahun lalu pergi karena sakit. Selamat bersitirahat dengan damai saudaraku, sahabatku. Semoga Khusnul Khotimah.
Persahabatan dan persaudaran Mt 87 tak putus dan terus berlanjut dengan berbagai macam acara dan kegiatan. Kegiatan kekeluargaan kerap diadakan untuk terus memupuk rasa persahabatan dan persaudaraan dianatara kami, seperti reuni, syukuran, wisata bersama, baik dalam rangka mengunjungi sahabat yang tinggal di Singapura, Macau, Switzerland ataupun menghabiskan waktu kebersamaan seperti di Belitung dan Cirebon, dll. Beberapa sahabat merantau di negeri orang, tidak menjadikan hubungan terputus. Silahturahim kerap dilakukan sehingga kami tetap menjadi keluarga besar Mt87.
Alhamdulillah, saat ini kami memiliki kegiatan Sosial bersama “Prosos Mt87” dimana kami menyisihkan sebagian rejeki untuk dana beasiswa putra putri sahabat kami serta umum yang membutuhkan.
Persahabatan abadi dantara kami keluarga besar 87 semoaga selalu menyertai kami. [Diceritakan,Metalurgi 87]

Informasi Lainnya

Kisah Angkatan 1979

Lulusan STM Pembangunan yg masuk ke Teknik Metalurgi UI pada Tahun 1979 mungkin hanya saya. Enggan pula kusebut berhasil karena mungkin

Selengkapnya >

Kisah Angkatan: 1965

Jurusan Metalurgi FTUI, didirikan pada tahun 1965. Ketika itu jumlah mahasiswa 25 orang, sedang kursi yang tersedia sejumlah 30 orang. Pada

Selengkapnya >

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *