Sejarah Teknik Metalurgi UI

Teknik Metalurgi UI dari masa ke masa

Share Post:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Dept Teknik Metalurgi dan Material UI

Dari Masa ke Masa

Berdirinya Jurusan Metalurgi

FTUI yang berdiri pada tanggal 17 Juli 1964 dengan Dekan pertama Profesor Ir Rooseno, yang ditunjuk langsung oleh Presiden pertama RI Ir Soekarno.  Fakultas Teknik ini berdiri atas usul PII yang antara lain Ir Sutami, Ir Slamet Bratanata dan Ir Kuntoadji kepada Rektor Universitas Indonesia saat itu Kolonel  dr Syarief Thayeb.

Saat itu FTUIhanya memiliki 3 Jurusan yaitu Jurusan Sipil (dengan Ketua Jurusannya Ir Sutami),  Jurusan Mesin (Ketuanya Ir. Ahmad Sayuti)  dan Jurusan  Listrik (dengan Ketua Jurusannya Ir. K. Hadinoto)  dengan 32 mata ajar, didukung oleh 30 tenaga dosen dan 11 tenaga non akademik.  Satu tahun kemudian, tahun 1965 dibuka Jurusan Metalurgi (dengan Ketua Jurusan Dr.Ing.Purnomosudhi Hajisarosa) dan Jurusan Arsitektur (Ketua Jurusan Ir. Sunaryo S).  Dekan FTUI, Ir. Rooseno dibantu oleh Ir Sutami selaku Pembantu Dekan I-Bidang Akademik, Ir. Slamet Bratanata selaku Pembantu Dekan II – Bidang Administrasi dan Keuangan serta Dr.Ing. Purnomosidhi H selaku Pembantu Dekan III- Bidang Kemahasiswaan.

Mahasiswa  Angkatan 1  Jurusan Metalurgi ( tahun 1965)

Awal penerimaan mahasiswa baru di Jurusan Metalurgi di bulan Agustus 1965 tersedia 30 kursi dan yang diterima menjadi mahasiswa saat itu 25 orang.  Namun karena system perkuliahan yang masih sulit, yang bertahan saat itu tinggal 7 mahasiswa yaitu, Asril Sukin, Zainab Kasim , Kusno Darsono, Eli Pawitan, X,X,X. Gazi amin

Perkuliahan pada tahun ini banyak dilakukan bersama dengan Jurusan Mesin sampai tahun ke dua. Mata kuliah kekhususan Metalurgi diberikan oleh Dr.Ing Poernomosidhi, Ir Siahaan, Ir Sriati Djapri(setahu saya Ibu Sriati Djapri belum mengajar pada tahun ini), Ir Rosfian, dan Ir Saronto sampai mahasiswa ini masuk ke tingkat 3. Di tahun 1966 perkuliahan terhenti dengan adanya gejolak suasana politik saat itu, sehingga Jurusan Metalurgi tidak menerima mahasiswa baru sampai bulan Januari 1967 perkuliahan dimulai kembali

Tahun 1967, Jurusan Metalurgi di ketuai oleh Dr.Ir. Poernomosidhi dan sekretaris Jurusan adalah Rosfian Arsyah Dahar. Dan dengan aktifnya masa perkuliahan maka penerimaan mahasiswa dibuka kembali, dan diterima 25 mahasiswa, namun sejalan dengan waktu, mahasiswa yang terus berkuliah saat itu ada 14 mahasiswa, antara lain: Sutopo, Bustanul Arifin, Hendrian, Murni Asti, Rizal Astrawinata,  Lanang Imam Purnomodan pada 1968 FTUI menerima 9 mhs, diantaranya yang meneruskan hingga lulus sarjana dalam bidang Teknik Metalurgi adalah Todung Barita, Sunara Purwadaria, Harsudi,  Josef Sabarudin.

Dalam tahun 1970 mulai timbul banyak masalah dengan ketiadaandosensehingga perkuliahan tidak dapat berlangsung dengan semestinya meskipun saat itu ada tiga angkatan yang sedang dalam masa perkuliahan. Pada tahun ke 4 ini Jurusan Metalurgi tidak menerima mahasiswa baru, hal tersebut bukan karena pimpinan Fakultas akan menutup jurusan muda ini namun saat ujian masuk perguruan tinggi tidak satupun calon mahasiswa Jurusan Metalurgiyang lulus ujian kimia.  Dengan minimnya dosen, dan ketiadaan mahasiswa baru, maka dilakukan pertemuan antara Jurusan Metalurgi dan Jurusan Mesin, untuk menutup saja Jurusan muda ini, namun Jurusan Mesin menolak penutupan Jurusan Metalurgi ini dan mengharapkan tetap bertahan, yang akhirnya Jurusan Metalurgi mendapat bantuan tenaga dosen yaitu Bapak Somad dari PT Aneka Tambang dan pak Siahaan. Selanjutnya Bapak Somad mengusulkan agar seluruh mahasiwa Jurusan Metalurgi FTUI ini pindah ke ITB, sebagian mahasiswa menyambut usulan ini dan sebagian lagi tetap bertahan di FTUI

Pada tahun 1971,ketika itu 8 mahasiswa yang memilih pindah ke ITB, mereka adalah Elly Pawitan, Todung BaritaLumban Radja, Harsudi, Sunara Purwadaria, Gazi Amin, Rizal Astrawinata, Ego Purnomo dan Sabarudin.  Tujuh mahasiswa yang memilih tetap di FTUI, Asril Sukin, Hendrian, Zainab Kasim, Murni Asti, Bustanul Arifin, Sutopo,  dan Kusno Darsono dan yang lain memilih untuk pindah jurusan.

Pada tahun 1971, delapan mahasiswa, Gazi Amin, Eli Pawitan, Rizal, Lanang Imam Purnomo,Harsudi, TodungBarita, Sunara Purwadaria serta Yosef Sabarudin mulai menimba ilmu di Jurusan TambangMetalurgi ITB sebagai mahasiswa percobaan selama 2 semester.Sayang saat itu mahasiswa hasiswa tersebut tidak diikat sebagai kader dosen Jurusan Metalurgi oleh  FTUI.  Pada saat itu, matakuliah-matakuliah yang dapat diekivalensi tidak usah ditempuh lagi di ITB.Praktikum-praktikum yang belum pernah dilakukan harus diikuti di ITB.  Beberapa matakuliah kimia terpaksa diikuti lagi di ITB karena saat itu praktikumnya menyatu dengan matakuliahnya dan praktikumnya belum dilakukan di FTUI. Setahun kemudian, 1972, mahasiswa2 tersebut lulus massa percobaan dan ditawarkan sepenuhnya menjadi mahasiwa ITB agar tidak usah diberikan kemudahan-kemudahan yang biasanya diberikan untuk kader dosen dari Perguruan Tinggi Negeri lainnya.Hanya Todung Barita yang kembali ke FTUI dan dua dari tujuh lulusan yang berasal dari FTUI diminta untuk menjadi staf akademik di ITB [sumber : Sunara Purwadaria]

Dengan tidak adanya Dosen saat itu (tahun 1970-1971), Pak Poernomosidhi menugaskan kepada ke 7 mahasiswa metalurgi yang tetap memilih sebagai mahasiswaFTUI Jakarta untuk berkeliling pabrik pengecoran yang ada di seluruh pulau Jawa selama satu bulan. Kadang kala beliau menyempatkan diri menemani dan mengantar mahasiswa dalam kunjungan pabrik tersebut. Kunjungan ke pabrik-pabrik ini dilanjutkan sebagai  penelitian untuk Tugas Akhir, semua atas biaya dari beliau. Empat mahasiswa dikirim ke PINDAD di Bandung selama satu tahun dan sisanya melakukan Tugas Akhir di Barata – Surabaya selama satu tahun juga

Pada waktu itu ASTRA berencana untuk membangun Mini pabrik baja sehingga membutuhakan tenaga – tenaga metalugi, namun pada saat itu saya tidak menyanggupi permintaan ASTRA karena saya sedang membangun usaha sendiri. Begitu juga dengan Pertamina yang yang saat itu sedang membangun pabrik baja Krakada.  Lalu ASTRA kami sarankan agar Dr. Mulyono menjadi tenega Metalurgi yang kemudian disusul oleh Ir. Yan Winata dan Ir.Tangga.

Catatan Pertemuan dengan Dr. Purnomo Sidi

Purnomo Sidi menyampaikan problem yang sedang dihadapi beliau dimana ia sangat sibuk dengan pekerjaan – pekerjaan yang dibebani oleh pemerintah ditambah lagi adanya 7 Mahasiswa metalurgi yang berseri keras minta diselesaikan studinnya di UI karena enggan pindah keperguruan lainnya seperti ITB.

Setelah diadakan kesepakatan bersama disusunlah team crash program dengan memanfaatkan tenaga – tenaga yang khususnya lulusan Jerman dan sudah bekerja di perusahaan – perusahaan swasta atau perusahaan – perusahaan lainnya. Hal ini bertujuan agar para tenaga ahli tidak terlalu tergantung dari honor UI sebagai dosen.

NoMata KuliahDosen
1Alloys SteelDr. Rachmantio
2Defect in SteelDr. Rachmantio
3Non FerrousDr. Rachmantio
4Pembentukan LogamDr. Rachmantio
5PengecoranDr. Rachmantio
6Proses ReduksiDr. Rachmantio
7Tekhnik Pengatur PengukurDr. Rachmantio
8Teori Proses MetalurgiDr. Rachmantio
9Bata Tahan ApiTanang
10Pembuatan BajaDr. Muljono dibantu Ir. Yan Winata
11Ekonomi Perusahaan Pabrik BajaDr. Muljono
12Energi Pabrik BajaDr. Muljono
13Ilmu LogamIr. Poernomosidi
14KorosiIr. Sulaiman (Staff LIPI)
15MetalografiIr. Sriati Djapri Msc
16Metalurgi FisikaIr. Sriati Djapri Msc
17Metalurgi ThermodinamikIr. Ronald Tanga
18Network PlanningIr. Saronto

Pada tahun 1975 Angkatan pertama dan kedua yang tetap melanjutkan  di FTUI akhirnya dapat menyelesaikan perkuliahannya atas hadirnya dosen-dosen dari Jerman tersebut, ditambah Ir Sriati Djapri MSc dan Ir Sulaiman yang keduanya diperbantukan dari LIPI. Target penyelesaian kuliah adalah kurang lebih 2 semester yang hanya memungkinkan dengan waktu yang sangat dipadatkan. c[nara sumber : Rachmantio, Asril Sukin, Sutopo, Hendrian,Sunara]

Catatan Jurusan Metalurgi di buka kembali

Setelah ke 7 mahasiswa menyelesaikan kesarjanaannya

maka diadakan pertemuan lagi dengan Pak Purnomosidi di fakultas dengan kesepakatan sebagai berikut:

  1. Jurusan akan dibuka kembali dengan penerimaan mahasiswa terbatas
  2. Pak Purnomo Sidi ditetap sebagai ketua juruan
  3. Rachmantio menjalankan tugas harian
  4. Sekretaris jurusan Bpk. Saronto
  5. Adminisistrasi umum dan keuangan dibantu oleh PT Karya titan  dengan menambah karyawati Sri Rejeki dan kemudian di sususl belakangan oleh Bpk. Lubis

Setelah jurusan mulai berjalan lagi, dosen – dosen  baru memperkuat staf pengajar antara lain :

  1. Ibu Sri Japri (Lipi)
  2. Dr. Mulyono dari Lemigas (ex Jerman)
  3. Dr. Rachman Subroto dari Lemigas (ex   Jerman)  
  4. Bp. Ir. Andar Manik (UNSU)
  5. ?

Sepuluh Tahun ke 2  (Periode 1975 – 1985)

Tahun 1975 Jurusan Metalurgi kembali menerima mahasiswa baru

Sejak tahun 1968 tidak ada penerimaan mahasiswa baru, dan dengan hadirnya dosen-dosen muda dari Jerman, maka tahun 1975, Jurusan ini kembali membuka penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, jurusan Metalurgi awalnya  menerima 19 mahasiswa, dan pada gelombang ke 2 penerimaan ada tambahan sekitar 8 mahasiswa. Seolah-olah angkatan 75 ini sebagai angkatan pertama.

Perkuliahan di tahun 1975 tidaklah beda dengan saat Jurusan ini berdiri di tahun 1964, dimana kegiatan perkuliahan masih harus bergabung dengan beberapa jurusan lain (Jurusan Mesin, Listrik dan Sipil), juga dengan FIPIA.

Sistem perkuliahan juga hampir sama dengan perkuliahan di tahun 1964, yaitu sistem kenaikan kelas dengan persyaratan semua mata kuliah ditingkat itu harus lulus semua. Tingkat 1 dan 2 maksimal harus ditempuh dalam waktu 3 tahun, bila lebih dari itu maka mahasiswa akan drop out.(system gugur). Perkuliahan ditempuh dari tingkat 1 sampai tingkat 5, dengan wajib melaksanakan Kerja praktek 3 kali , membuat Tugas Kecil (baik penelitian ataupun penelusuran literature) sebanyak 3 kali dan diseminarkan didepan mahasiswa. Karena saat itu Jurusan Metalurgi belum memiliki Laboratorium, maka untuk praktikum Teknologi Mekanik dilakukan di Bengkel Kereta Api.

Saat itu Jurusan Metalurgi di ketuai oleh Dr Rachmantio dengan sekretaris Jurusan Ir Saronto yang sangat apik ke administrasi an nya, dibantu oleh Sri Rejeki karyawan PT Titan yang diperbantukan mengurusi keuangan dan administrasi Jurusan ini.[nara sumber: Paulus, Djalu]

Tahun berikutnya , Jurusan Metalurgi sudah rutin menerima mahasiswa baru seperti Jurusan yang lain.  Jurusan Metalurgi yang keras ini, ternyata juga menerima mahasiswi sejak angkatan pertama  dipelopori oleh (Zaenab Kasim, Eli Pawitan, Murni Asti, Sri Sarneti, Veronika So Liong Tju dan Yunita Sadeli).

Berdirinya Laboratorium Kimia dan Laboratorium Metalografi (tahun 1977)

Kendala pada saat awal pembukaan kembali Jurusan Metalurgo adalah tidak memiliki satupun laboratorium dengan alasan tidak ada satupun ruang kosong di gedung Salemba

Akhirnya dengan cara nekad jurusan memaksakan gedung kuliah yang jarang dipakai di untuk “disulap” jadi laboratorium kimia tanpa izin resmi dari fakultas. Nanun hal ini turut dibantu oleh Ir. Sri Bintang sebagi pembantu dekan. Meskipun laboratorium ini masih sangat sederhana namun telah meletakkan batu pertama untuk kelanjutan laboratorium – laboratorium lainnya seperti pengecoran , korasi dll.

Tamatan Jurusan Metalurgi angkatan pertama dan kedua ini mulai bekerja di Industri Logam, seperti Ir Bustanul Arifin mengawali karirnya di Pabrik Baja Krakatau Steel& Foundry Baja Indonesia Utama, Ir Sutopo juga berkarir di Aneka Mukti Metal dan Ir Kusno Darsono berkarir pada perusahaan Dapur Heat Treatment. Namun mereka hanya bekerja tidak sampai satu tahun, karena diminta kembali ke kampus untuk membantu mengembangkan Jurusan Metalurgi, dan Ir Sutopo dan Ir Asril Sukin kembali ke jUrusan Metalurgi untuk mencari dana dengan mengerjakan beberapa proyek dari PU, yaitu proyek penelitian korosi Jembatan. Dari hasil proyek-proyek tersebutlah Jurusan ini mampu membangun Laboratorium Kimia dan Metalografi yang dikelola oleh Ir Asril dan Ir Sutopo.  Selanjutnya Ir Bustanul Arifin, Ir Andarmanik dan Ir Ronal Tanga kembali bergabung menjadi staf pengajar dan mendirikan LAboratorium Pengecoran.[nara sumber ; Rachmantio, Sutopo, Asril]

Pogram Studi Gas dan Petrokimia (PSTG)  tahun 1981

PSTG adalah program studi di Jurusan Metalurgi yang diadakan oleh Dr Rachmantio beserta teman-teman dari Pertamina, yang mempertimbangkan bahwa tidak lama lagi minya bumi akan habis sehingga perlu mengantisipasi pemberdayaan gas yang selama ini belum terfikirkan.  Dengan membuka kesempatan kepada mahasiswa teknik di FTUI ( selain mahasiswa jurusan Arsitek), mahasiswa Fisika MIPA dll, dengan cara mengikuti ujian psychotest untuk diterima pada program studi ini. Angkatan pertama berjumlah 24 mahasiswa berasal dari Teknik Metalurgi, MIPA Kimia dan Fisika. PSTG ini awalnya diketuai oleh Dr Rachmantio yang dibantu oleh Ir Soetanto (dosen Elektro) , Ibu Tilani dan ibu Astatina.

Beberapa mahasiswa angkatan 1978 saat itu bermigrasi ke PSTG ini, mereka sudah di semester 6 saat di jurusan Metalurgi, ketika pindah ke PSTG mereka masuk di semester 5 lagi. Kuliah di PSTG lebih intent, teratur dan terstruktur seperti saat di SMA, banyak tugas dan pekerjaan rumah, senangnya disini setiap mata kuliah dipinjami buku wajib nya. Juga berkesempatan studi ekskursi ke pabrik pupuk yang bahan bakunya gas bumi, ke instalasi pembuatan LPG di Mundu, stasiun compressor gas bumi di Cilamaya dan Kilang BBM di Cilacap.  Mata kuliah yang utama adalah LNG Processing, dimana hampir semua mata kuliah yang diberikan menunjang untuk mastering proses pencairan gas bumi menjadi LNG sepertiyang ada di kilang LNG Badak di Kalimantan Timur dan Arun di Lhok Seumawe.  PAda semester 7 mahasiswa diwajibkan kuliah Kerja Praktek selama 3 bulan di LNG plant Arun atau Badak.

Selain pengajar dari UI, pengajar didatangkan daripraktisi Pertamina dan Lemigas serta ada dosen tamu dari Institute Gas Technology(IGT)  Ilinois Chicago yang sebagai perancang Program pendidikan Teknik Gas FTUI ini, sehingga seluruh diktat kuliah dan bahan ujian pada tahun pertama dibuat oleh IGT.  Mahasiswa mempelajari mulai dari eksplorasi  dan eksploitasi gas bumi, reservoir gas bumi, proses gas bumi, perpindahan kalor, steam generator, LNG processing, instrumentation, Healt and Safety in Gas Industries.

Yang dirasakan oleh mahasiswa PSTG saat itu, program ini sangat siap pakai, semua yang diajarkan sesuai dengan yang akan dilakukan di dunia kerja.

Pada tahun 1985, program studi ini menjadi Jurusan Gas dan Petrokimia, dimana kurikulum sudah banyak disesuaikan dengan S1 .Kalau bertanya kepada angkatan pertama, ada hal yang sangat berkesan, dimana ajaran dari dosen Pak Warga Dalem adalah Knowledge Management, disini diungkapkan bahwa janganlah semua ilmu disimpan di dalam otak namun simpan di perpustakaan (library), kuasai cara mengaksesnya…setelah bertahun-tahun, sekarang seperti cara googling di internet, dengan demikian seseorang tidak akan kehabisan informasi, knowledge dan aplikasinya kalau diri sendiri paham bagaimana mengaksesnya. [nara sumber: Amril Thaib, Iwan Heryawan angkatan 1 PSTG]

Program Percepatan Insinyur (Crash Program), tahun 1985

Program ini dimulai pada tahun 1985 yang didanai oleh World Bank, dimana Jurusan Metalurgi adalah salah satu Jurusan yang mengikuti Crash Program ini. Maka dari itu pada tahun 1985, mulai pertama kali Jurusan Metalurgi membuka penerimaan mahasiswa baru sampai 100 mahasiswa.  Saat itu diperlukan kelas besar untuk menampung perkuliahan mereka.

Penerimaan mahasiswa baru angkatan 85, bulan Juni  1985. Prosedur penerimaan mahasiswa baru masih sama dari tahun ke tahun, dimana mahasiswa baru harus melakukan pendaftaran ulang di Bank BNI Salemba, dan selanjutnya menjalani serangkaian administrative, dan tes kesehatan. Mahasiswa baru ini wajib mengikuti P4 (Penataran, Pemahaman dan Pendalaman Pancasila 100 jam, saat itu masa ditegakkannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan, setelah era pergolakan gerakan mahasiswa yang terakhir pada tahun 1983.  Sehingga kegiatan P4 ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru se UI yang dibaurkan menjadi satu. Setelah menyelesaikan P4 biasanya mahasiswa baru ini akan menerima sertifikat tanda telah selesai mengikuti P4 100 jam, namun angkatan ini tidak menerima Sertifikat ini karena Rektor UI saat itu, Prof Nugroho Notosutanto yang merangkap sebagai Menteri Penddidikan RI meninggal dunia  sebelum membubuhkan tanda tangan  untuk sertifikat tersebut, dan ternyata tidak sempat digantikan oleh siapapun.

Angkatan 85 ini menjalani masa bimbingan (mabim) di Gedung D tempat yang jauh di belakang Gedung FTUI, sepi dan sedikit gelap, di Gedung inilah mahasiswa baru angkatan 85 mendapat ‘bimbingan’ dari senior2 nya saat itu.

FTUI Pindah Ke Depok, 1987

Tahun 1987, Jurusan Metal pindah ke Depok, perpindahan dari Salemba ke Depok tidaklah sesederhana itu, terutama memindahkan alat-alat Laboratorium Mekanik, Pengecoran yang peralatannya super besar (mesin tarik Tarno, dapur induksi dll). Hampir semua mahasiswa yang terlibat menjadi asisten Lab saat itu turun tangan menyelamatkan peralatan2 ini.
Namun tetap saja beberapa perangkat hilang entah kemana, bisa jadi nyasar ke Jurusan lain yang Bentuk gedung di Depok serupa, mirip satu sama lain.
Depok yang gersang, kering tanpa pohon satupun, debu berterbangan saat musim kemarau, dan tanah menjadi becek saat hujan tiba. Belum ada fasilitas warteg, restoran untuk mencari makan mahasiswa, dosen dan karyawan. (awal itu, istri dosen elektro, ibu Sutanto dengan baik hati membuka warteg mobil, menyediakan makanan sederhana di mobil yang disulap jadi tokonya….lumayan….)


Depok yang jauh dari tengah kota, sarana transportasi umum juga masih minim, belum lagi gedung perkuliahan yang lumayan jauh dari jalan raya, maka rata-rata saling nebeng, mobil siapa saja di stop untuk nebeng sampai kampus. Dan mahasiswa juga akhirnya mencari kost-kost an disekitar kelurahan(Kukel) dan depat FTUI (kutek).[baca juga kisahnya Bram’86]Dalam perjalanan usia 50 tahun ini, banyak perkembangan yang dicapai oleh Jurusan Metalurgi, yang akhirnya menjadi Departemen Teknik Metalurgi dan Material, dimana penggantian nama ini untuk menjawab kebutuhan dunia tentang aplikasi material non logam.
Banyak kerjasama yang dibangun oleh Departemen ini baik di Industri Nasional ataupun Internasional.
Kegiatan mahasiswapun sudah sampai tahap yang membanggakan dengan aktifnya mahasiswa tampil di konferensi International, yang disupport oleh alumni. Dalam menghadapi kurikulum KKNI maka Ikatan Mahasiswa Metalurgipun gencar mengikuti pelatihan serifikasi dan juga membentuk Asosiasi seperti NACE student chapter UI, yang baru saja Metalurgi UI yang memilik. Mahasiswa juga aktif pada P3MI Persatuan Teknik Metalurgi dan Material di Indonesia yang setiap tahun mengadakan Seminar Nasional secara bergantian (SENAMM).
Yang membaggakan adalah capaian alumni Metalurgi diposisi posisi strategis di pemerintahan (Syarif Hidayat’86, Falcon’80, Hardjanto’80, Muhammad Anis’77, Eddy Siradj’75, Dedi Priadi’80, Bondan Tiara’87,) dan banyak lagi yang terjun sebagai Politisi, Pengusaha…..
Bangganya…………

Credit to Rini Riastuti Mt78

Informasi Lainnya

Kisah Angkatan 1987

Angkatan Mt87 adalah angkatan pertama yang mulai di kampus Depok sejak tahun pertama. Kampus FTUI saat itu masih gersang, penuh jejak

Selengkapnya >

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *