Kabar bahwa LG menarik diri dari sebagian proyek ekosistem baterai di Indonesia mengundang banyak tanya. Saya tidak melihat ini sebatas LG mundur, tapi ini adalah momen reflektif tentang kesiapan ekosistem, arah kebijakan industri, dan dinamika pasar lokal dan global yang terus berubah. Setidaknya ada 7 hal yang menjadi catatan pribadi saya, semoga bisa jadi bahan diskusi kita bersama.
1) LG Tidak Sepenuhnya Pergi
Masih ada komitmen LG di Indonesia, seperti melalui JV HLI Green Power dengan Hyundai yang telah memulai produksi sel baterai di Karawang. Namun memang, proyek besar dari hulu (tambang dan smelter) hingga hilir (battery pack & EV) tengah mengalami rekalibrasi. Ke depan, banyak hal yang perlu kita antisipasi. Kemudian, salah satu faktor penting yang patut dicermati adalah: core business LG sebenarnya lebih kuat di sektor hilir, yaitu manufaktur baterai, bukan pertambangan. Keterlibatan mereka di sektor hulu seperti tambang nikel dan smelter menjadi tantangan tersendiri, baik secara strategis maupun operasional.
2) Pergeseran Tren Global
Banyak investor mulai lebih fokus ke hilir, tempat inovasi, efisiensi produksi, dan margin bernilai tambah lebih tinggi. Bukan hanya LG, perusahaan seperti Eramet dan BASF juga telah menarik diri dari proyek-proyek hulu di Indonesia, meski sebelumnya sangat vokal mendukung rantai pasok nikel global dari sini. Jika kita tarik ke konteks global, dinamika pasar mineral kritis (critical minerals) juga terus bergerak. Beberapa tahun lalu, saat material NCM mendominasi, nikel menjadi primadona. Namun kini, eksplorasi besar-besaran, diversifikasi rantai pasok global, dan masuknya mineral alternatif membuat akses terhadap nikel menjadi lebih luas dan kompetitif. Fokus sebagian investor pun mulai bergeser dari hulu ke hilir, di mana nilai tambah dan inovasi lebih terasa.
3) Bagaimana hubungannya dengan lithium ferro phosphate LFP (LiFePO4)?
Yang juga saya catat, di antara alasan utama mundurnya LG adalah dinamika terkait permintaan baterai berbasis nikel kadar tinggi (nickel cobalt manganese, NCM). Baterai NCM memiliki pasar yang lebih besar di kawasan Amerika dan Eropa karena lebih cocok dengan kebutuhan EV yang berfokus pada jarak tempuh yang lebih jauh dan ketahanan cuaca namun dengan harga yang relatif lebih tinggi dari LFP. Di Indonesia? Bisa jadi LFP lebih relevan saat ini. Dengan LFP, harga bisa lebih rendah dan kebutuhan baterai dengan jarak tempuh dekat/sedang termasuk urban commuting sehari-hari lebih disukai. Tapi strategi jangka panjang tetap perlu untuk kedua jenis baterai. Untuk dinamika LFP, saya akan membuat tulisan terpisah.
4) Jadi bagaimana nasib NCM ke depan di Indonesia?
NCM masih punya tempat, khususnya untuk kendaraan kelas menengah-atas dan aplikasi energi tinggi. Tapi tentu Indonesia perlu lebih siap membangun ekosistem NCM yang berkelanjutan 10-20 tahun ke depan. Ini bukan sekadar urusan tambang, tapi soal prekursor, pemurnian logam battery-grade, dan manufaktur tingkat lanjut, dan sekali lagi, infrastruktur.
5) Tidak ada salahnya belajar juga dari tetangga: VinFast dari Vietnam
VinFast itu sangat berani dan terstruktur, tapi perlu dicatat juga bahwa mereka memulai lewat lisensi intellectual property (IP). Artinya, meski punya dana dan pabrik, akses terhadap IP tetap krusial. Industri baterai adalah industri yang sangat padat IP, dari struktur sel, material aktif, elektrolit, aditif, desain sel, hingga proses manufakturnya. Bahkan perusahaan besar pun memilih membeli lisensi, bukan semua dikembangkan dari nol. Saya kira kita perlu mulai mengembangkan kemampuan dalam IP management dan IP improvement. Tidak cukup hanya mengejar pabrikasi, kita harus mulai membangun kekuatan dalam riset, paten, dan rekayasa balik. Untuk dinamika IP dalam industri baterai ini saya juga akan membuat tulisan terpisah.
6) R&D dan SDM: Kunci Masa Depan
Ketika saya berdiskusi dengan beberapa stakeholder yang terlibat dalam ekosistem baterai dan kendaraan listrik di Indonesia, yang kerap saya sampaikan adalah: R&D tidak boleh tertinggal. Harus jalan beriringan, baik untuk NCM, LFP, maupun next generation batteries, eksplor juga potensi material yang lain. SDM bertalenta juga merupakan kunci yang sangat penting. Kurikulum teknologi baterai harus mulai dimasukkan ke perguruan tinggi. Belajar dari Korea Selatan, mereka sudah membentuk jurusan-jurusan khusus seperti “Battery Engineering”, lengkap dengan kolaborasi industri dan open lab yang kuat. Bangun brand otomotif lokal, mulai dari perakitan, lisensi, lalu naik kelas ke pengembangan EV sendiri.
7) Bagaimana dengan kondisi R&D baterai saat ini di Indonesia?
Sudah banyak inisiatif R&D yang dilakukan beberapa institut, baik universitas, lembaga riset, juga perusahaan lokal: dari sel baterai, battery pack, integrasi EV, standardisasi, hingga daur ulang. Tapi tantangannya kini makin konkret. Oleh karena itu, perlu strategi-strategi khusus ke depan. Indonesia punya peluang besar, bukan hanya karena cadangan mineral, tapi karena posisi geopolitik dan pasar domestik. Tapi peluang itu hanya bisa dimenangkan kalau kita punya visi, keberanian, dan strategi jangka panjang menghadapi disrupsi pasar. Bukan hanya jadi lokasi menambang, tapi juga tempat menciptakan teknologi, berinovasi.
Diskusi ini tentu masih terbuka. Menurut Rekan-rekan, apa langkah strategis paling realistis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai baterai global?
Muhammad Hilmy Alfaruqi
Alumni Teknik Metalurgi dan Material 2004
Next Generation Batteries Lab, Chonnam National University, South Korea


